Tampilkan postingan dengan label Naskah Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Drama. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2011

Naskah Drama Hence Makalew: "Surga Neraka Si Profesor"


Babak I

(Setting: Siang hari. Theater Hall Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi Manado. Panggung berkabut. Di tengah-tengah panggung terdapat sebuah kursi listrik. Di ujung kiri panggung terdapat penanda arah yang bertuliskan Surga dan yang di bagian kanan bertuliskan Neraka)
(Masuk Malaikat Pencabut Nyawa [M.P.N]. Berjalan menyusuri penonton. Menghampiri Mahasiswa Berprestasi [M.B] yang mengidap penyakit jantung yang duduk di antara para penonton kemudian berusaha menggenggam jantung M.B. Perlu diketahui bahwa M.B ini adalah aktris yang disewa untuk mendukung pertunjukan ini)

M.B: (Seolah-olah dapat melihat M.P.N. M.B menjadi histeris)
Nyanda!!!
Bukang skarang!!!
Kita nimau!!!
Tunggu!!!
Nyandaaaaa!!!
Akh...(mati)


(Setelah menyelubungi seluruh bagian kepala M.B dengan kain hitam, M.P.N menyeret M.B ke panggung. Dalam perjalanan ke panggung M.B terus merintih)


M.B: Kiapa kong skarang dang? (berulang-ulang dan semakin keras)
Tuhan, Kiapa kong skarang dang?
Masih ada banya tugas yang kita blum beking!
ISD, Statistika, deng Pancasila
Tu Maengket le kita blum hafal samua de pe gerakan!
Kan kalu bagini kita so nda mo dapa I.P. 4 ulang.
(meratap)

(M.P.N mendudukan M.B kemudian mengikatnya di kursi listrik)
(Iblis masuk setelah membuat kegaduhan)
(Masuk Malaikat)

Iblis: Dia ini so talalu ambitu!
Dia lebe pake de pe otak dari pada de pe hati.
Dia egois!
Deng sombong!
Jadi, dia ini pantas skali maso neraka.
Malaikat: Sapa ngana pe Tuhan? (kepada M.B. dengan lembut)
M.B: TuanYesus
Malaikat: Sapa ngana pe Tuhan?
M.B: (berpikir) Ng...pa..yang ada ba tanya ini no.
Malaikat: Sapa ngana pe Tuhan?
M.B: (berpikir) Ng...

(perlahan M.B. mulai ketakutan, setelah disadarinya ternyata pikirannyalah sendiri yang menjadi Tuhannya)

M.B: Oh Tuhan! Selama ini, yang jadi kita pe Tuhan kote' ternyata..kita pe otak.
Malaikat: Apa ngana pe pembelaan?
M.B: Sudah..Sudah..adoh kasiang...adoh (panik...meratap)
Iblis: Ha ha ha...
Sini ngana!
(menyeret M.B. ke neraka)

(M.P.N kembali berjalan menyusuri penonton. Sementara itu Prof. Bangsat Abadi [P.B.A] sapaan akrabWitho (seorang mahasiswa abadi di fakultas itu) memasuki ruangan dari pintu samping. P.B.A yang adalah salah satu mahasiswa abadi di Fakultas itu sejak dari tadi menonton pementasan ini dari luar ruangan. Untuk mendapatkan view yang lebih baik ia memutuskan untuk menonton pertunjukan dari deretan teratas yang terdapat di bagian belakang ruangan. Kemudian ia mulai menapaki anak tangga dan ia pun berpapasan dengan M.P.N yang sedang menuruni tangga. P.B.A yang terkejut melihat M.P.N tiba-tiba terjatuh hingga terguling-guling, dan akhirnya mati. Setelah memakaikan kain hitam yang menutupi seluruh bagian kepala P.B.A, M.P.N menyeret P.B.A ke panggung dan mendudukannya di kursi listrik yang ada di tengah-tengah panggung dan mengikatnya)

P.B.A: Ah! Kita nemau!!! (kepada M.P.N)
Sapa ini da hela-hela pa kita?
Woy! Kiapa ini?
Malaikat: Ngana ada dalam pengadilan alam baka.
P.B.A: Wei! Co jangan baku sedu kwa. (mulai marah. Memberontak. Bergegas lari keluar dengan kursi yang masih melekat pada bagian belakang tubuhnya namun di cegat M.P.N dan di seret kembali ke tengah panggung)
Iblis: Dia ini brutal!
Stenga gila!
Deng homoseksual!
P.B.A: Eh! Jangan asal-asal ngana!
Laki-laki asli kita!
Kita ini di band pemain gitar. Kalu di bola kaki biasa ba kiper, mar kita lebe suka kwa ba straiker. Kalu di basket, kita jago ba ribaun. Apa le...
Pernah iko kejuaraan klaimbing antar mahasiswa, jago ekting, anak satu.
Iblis: Dia ini sombong skali!
Sorodo!
Kong biongo le!
Malaikat: Sapa ngana pe anak...eh...sapa ngana pe Tuhan?
P.B.A: Hahahaha...apa ini?! (gusar)
Kita pe Tuhan pa Tuhan no!
Malaikat: Apa yang ngana so beking for ngana pe Tuhan?
P.B.A: (berpikir) Ng...
Iblis: Ha ha ha...
So ini tu kita da tunggu-tunggu dari pa ngana!
Sini iko pa kita!
(berusaha menyeret P.B.A ke neraka namun terhenti ketika terdengar suara yang keluar dari Sosok Putih)
(masuk Sosok Putih)
Sosok Putih: Yang dia beking for kita memang amper nyanda ada.
Yang dia minta pa kita le cuma dua hal.
Yang pertama, supaya jangan sampe dia pe anak jadi rupa dia.
Tiap malam dia berdoa minta tolong pa kita supaya dia pe anak nyanda dapa otak rupa dia.
Yang kadua, dia minta Kita mo jaga-jaga akang depe maitua.
Dia percaya pa Kita.
Jadi, bukang di situ de pe tampa.

(Sosok putih mengambil P.B.A dari Iblis lalu menuntunnya mengikuti penanda arah yang bertuliskan surga)


Babak II (Bonus)

(Setting: Siang hari. Ruang Theater Fakultas Sastra. Panggung di tata seperti sebuah kamar tidur)
(P.B.A yang sedang tertidur di ranjang yang berada di tengah-tengah panggung perlahan mulai terjaga. Kemudian dia mulai bangkit dengan perlahan)

P.B.A: (menghela nafas panjang)
Pe soe le...surga do...
Bae le cuma mimpi...
(meregangkan otot-ototnya)
Suara anak: Om mo ba sewa P.S. dang.
Om...
P.B.A: Iyoo...(melompat dari tempat tidur dan segera keluar meninggalkan panggung)

Selesai

Naskah Drama Ie Hadi G: "Usikkan Nyamuk"




Sebuah ruangan. Alat musik. Beberapa orang sibuk membersihkan tempat untuk tidur. Dua orang lain masuk, saling susul. Saling diam. Saling menyapa.

Timadde          : Nora

Nora                : Diam…!

Timadde          : Sayangku

Nora                : Aku tidak mau mendengarkan apa-apa darimu, Tua Bangka !

Timadde          : Nora, Sayangku

Nora                : Diam, mulut busuk !

Timadde             : Nora, angin sepoi-sepoi akan menyiksamu. Membuat engkau tertidur lalu terkapar mati olehnya. Kau tahu, dia juga akan segera bersekongkol dengan angin itu untuk menyiksamu.

Nora                : Cukup ! Aku tidak tahan lagi bila engkau menakut-nakuti terus menerus seperti itu dalam setiap perjumpaan kita.

Timadde          : Dengarkan dulu lanjutannya, Sayangku.

Nora                : Tidak ! Bila kau masih ingin melanjutkannya maka aku akan menggigitmu, Timadde !

Timadde          : Ow…!

Timadde terdiam sesaat. Kecewa. Lalu dia tersenyum dengan sebuah pertanyaan baru di benaknya.

Timadde          : Nora, Sayangku. Kau masih ingin mendengarkan hal-hal terhebat dalam dunia ini, kan ?
Kau tahu mengapa Tuhan menciptakan nyamuk ?
Hampir semua ciptaanNya memiliki guna bagi hidup manusia. Anjing, bisa menjaga harta tuannya; Kuda, bisa ditunggangi; Kerbau, bisa dicocok hidungnya dan bisa dicambuk untuk membajak sawah. Tapi, Nyamuk…?! Tidak ada gunanya selain mengganggu kenyamanan tidur.

Nora                : Menarik juga. Lanjutkan, Timadde !

Timadde          : Kau tahu, tadi malam sewaktu angin sepoi-sepoi membuai kemanjaanku, aku tertidur. Eh, tepatnya tidurku belum teramat nyenyak. Aku masih bisa mendengar dengungannya. Si Bangsat itu, Nyamuk, terus-menerus menderu dan meraung seumpama pesawat di dekat telingaku. Aku menepisnya sekali, dua kali, lima kali, sembilan belas kali, sampai aku benar-benar marah. Aku bangun. Kantukku benar-benar hilang. Kuumpati, bahwa makhlukyang tidak ada gunanya bagi manusia bahkan bagi bumi ini cuma dia satu-satunya, Nyamuk.

Nora                : Kasihan sekali. Kenapa tidak kau balas ? Cari dia. Tiup dia, tepat seperti angin sepoi-sepoi meniupmu. Bila dia sudah hampir tertidur, kejutkan dia dengan satu teriakkan : Woooiii…!

Timadde          : Tidak, Nora ! Aku justru memintanya dengan sangat agar dia dan angin bersekongkol untuk menyiksamu setiap malam. Ha…ha…!

Nora                : Kau mulai menyinggungku lagi. Awas, kau akan kugigit dan kupatahkan lehermu sekarang juga.

Mereka berkejaran sampai kehabisan tenaga. Napas satu-satu. Beberapa orang menyalakan obat bakar anti nyamuk, siap-siap tidur tapi terganggu lagi oleh kegaduhan Nora dan Timadde.

Timadde          : Nora, masih hidupkah kau ?
Nora ?
Apa kau pingsan ?

Nora                : Eh… Tua Reyot ! Aku masih lebih kuat darimu. Justru aku sedang menunggu kapan engkau terkapar, tak berdaya. Dan, nyamuk itu…meraung di telingamu. Menggigit bibirmu. Kau tersadar. Marah. Lalu mati dalam kemarahanmu. Timadde, bila kau telah mati, aku akan memasang di kuburmu sebuah papan yang bertuliskan : “DI SINI TERBUJUR TIMADDE RENTAH. MATI OLEH NYAMUK, DENGAN BIBIR BENGKAK BERDARAH“. Tulisan itu akan menjadi semacam penyakit yang menjangkiti semua orang yang sering mengusik sesamanya seperti halnya kau yang menggangguku.

Timadde          : Nora, mengapa engkau memiliki pikiran yang begitu kejam ?

Nora                : Karena aku akan menjadi nyamuk di dalam kehidupanmu. Dan, musik itu akan menjadi angin sepoi-sepoi yang akan meninabobokkanmu.

Timadde          : Hentikan, bangsat ! Aku tidak akan mengganggumu. Tolong jangan ganggu aku lagi. Bila kau nekat, aku bakal menghajarmu hingga mampus.

Timadde menyepi. Nora memainkan musik dengan nyanyian-nyanyian yang sangat mengganggu. Nora bersekongkol dengan angin, menjelma jadi nyamuk yang sangt menyiksa orang tua itu. Timadde bangkit dengan marah. Mereka kembali berkejaran sampai hilang. Sampai ke gelap malam. Beberapa orang itu akhirnya tidur dengan lelap.***




Naskah Drama Vick Chenorre: "Surat Bosias"


sang hampa
(diiringi tetabuhan tagonggong)
sejarah berkata sesudah segala peristiwa terjadi…… sejarah mencatat dan sejarah bicara……

ketika darah bertanya kepada sang detak, detak tak menjawab. ketika detak bertanya kepada sang nafas dan sang nafas tak menjawab. ketika sang nafas bertanya kepada sang waktu, sang waktu tak menjawab. dan ketika sang waktu bertanya kepada sang tuhan, sang tuhan tak menjawab, tetapi hanya memberi sesuatu, sesuatu itu adalah hidup dan hidup itu adalah pertanyaan. maka mulailah pertanyaan itu berkembangh biak memenuhi semua benda baik bernyawa dan tak bernyawa, berbentuk dan tak berbentuk, berwajah dan tak berwajah, ada dan tiada
pertanyaan itu hidup dalam henti dan gerak, dalam awal dan akhir, dalam belum dan sudah
dalam lahir dan mati, dalam sakit dan bahagia, dalam senyum dan tangis dalam sesuatu yang sebenarnya adalah tiada dan ketiadaan itulah pertanyaan.

inilah pertanyaan dari sebuah pertanyaan;


adalah kekosongan, segala hampa, dan kehampaan itulah awal ke”ada”an. suara tagonggong bertalu dalam sunyi membela gelap, menampar remang menyeret gelisah yang bernafas, membatukan sunyi ke tiap yang bernadi, ketiap yang berudara, ketiap yang sepi, batu, kerikil, tanah, kursi, ketakutan, bendera, layar, pedang, gigil, pasir, air, sungai, laut, telaga. dan …………… suara itu mengejar getar, gerak, pada tiap yang bertumbuh, pohn, akar, urat, daging, geligih, mata, debur darah, gegas jantung, sembur nafas, deras keringat adalah tinta, adalah tiada dan yang lahir itu menjadi ada manusia………….. sesosok manusia adalah sesosok pertanyaan, sesosok peristiwa, sesosok bayangan, segumpal kenangan dan memang………… apakah, siapakah, benarkah, mungkinkah, bukankah, ataukah, mengapakah dan untuk apakah.
dan bunyi jantung tanahku jantung tagonggong berdetak-detak, bertalu-talu, gerak itu bergerak, getar itu bergetar, tari itu menari, nyanyi itu menyanyi, tangis itu menangis dalam dingin, dalam angin, dalam jantung sunyi. bunyi tanahku dari jantung tagonggong adalah tiada dan tiada itu menulis yang ada menceritakan satu demi satu peristiwa, gelisah, amarah, cinta. ditulisnya dalam bunyi dalam getaran ketiaadaan dan bunyi itu adalah sebuah catatan tentang segala kesunyian.

instrumen soudtrack, tagonggong mereda, dari jauh ada teriakan memanggil sebuah nama, suara lelaki dalam lelah. lampu menyala. dan sosok tubuh keringat sekujur raga mengerang lesu, lambat, lelah. tangannya terantai. ia diseret oleh sebuah kursi. ia memanggil nama itu berkali-kali.


ese
bosias…. bosias…. bosias
mengapa kau tinggalkan leka sendirian di bukit. dia terbakar… dia terbakar… dia terbakar. (histerik, serak, melepas rantainya, mencengkram kursi, mengangkat seolah membantingnya ketanah. tuibuhnya gemetar. instrumen)
bosias…. mana tiang gantungan itu
(menurunkan kursi itu ketanah perlahan)
inilah sangi batu yang kau pikul itu.
(mendekati waktu dan berbicara dengan waktu)
waktu seperti pergi dan kembali, kemarin tak ada, yang ada hanya hari ini.
lahir mati lahir mati lahir…. bosias….
(mengulang kata-kata itu berkali-kali, kemudian keluar dengan cahya. musik mengalun, tagonggong bertalu-talu. masuk sesosok laki-laki memanggul pohon dan memancangkannya di tanah, kemudian mengambil tabung bambu yang berisikan surat-surat, dibelahnya tabung itu kemudian membaca surat tersebut)

sosok

ini surat-surat bosias dan di kepala anak-anak leka, kebenaran ini menjadi kotoran. tunas-tunas ini akan bertumbuh, akar-akar ini akan merayap, ranting-ranting ini akan berbuah dan buah itu akan membakar leka.
(mengambil air, menyiram tunas, kursi, batu, tanah,)
bertunaslah, bertumbuhlah. kau akan subur oleh air mata, kau akan hidup oleh darah. akan ada rasa haus dan akan ada rasa puas. kau akan hidup diantara api dan air, semua akan menagih, pedang akan menembas, jala akan menangkap, tali akan melilit, pisau akan menyayat, lembing akan menikam, telur akan meletus, api akan membakar, tinta akan menulis.
(mendekati kursi dan menyiramnya kembali, kemudian memasang lilin)
bertunaslah
bertumbuhlah
kau akan menjadi api yang membakar kebenaran
kaulah kemuliaan, tapi akan ada darah, nyawa-nyawa yang terkupas, nafas-nafas yang terlepas, kepala-kepala yang terpenggal, tangan-tangan yang diikat, tubuh-tubuh yang dibelenggu, lambung-lambung yang terbungkam, kelaparan, kematian, kesengsaraan, kemiskinan, perang akan lahir dari rahimnya.
untuk itu pilihlah siapa yang menjadi anakmu. kaulah kemuliaan yang nantinya ternoda oleh tangan-tangan kelaparan.
(mendekati sepotong kayu dan menggergajinya)
inilah jaman, tak ada yang bisa menerka jaman
dari waktu kewaktu, roda selalu berputar menggilas kehidupan.
(mengambil biji-bijian, menaburnya kesegala arah)
seperti benih waktu menebar kesegala arah
seperti garam, ia memberi rasa
seperti telur, ia meledakkan badai kebenaran dimana-mana
seperti debu, ia terbang kemana-mana
(melemparkan garam, telur dan tepung. kemudian keluar. tagonggong bertalu-talu, nyanyi pedih terdengar mendekat/syair sangi. sesosok timade masuk memanggul palang salib, menancapkannya ketanah. besamaan dengan itu ese masuk dengan membawa kepala manusia dan meletakannya di atas kursi.)

timade

(menyanyikan syair kepedihan yang teramat menyayat)

ese

kepala ini mencari tuannya………..
aku telah berjalan ke utara mencari bosias
dan dukaku leka terbakar
dan tangisku leka terbakar.
kenapa kau tinggalkan leka sendirian di bukit (bertanya kepada timade)
bosias… bosias… bosias dimanakah kau?
kau tahu apa yang kutanam di jantung anakmu? apa…? apa…?
kayu itu…. tiang itu…. burung dan perempuan bertelur disana
(mendekati tiang salib itu, nyanyian sangi dan tagonggong mengalun. ese menangis, memeluk tiang itu, kemudian membanting tubuhnya ditanah. syair sangi semakin terdengar pedih, merobek lapisan-lapisan tubuh hingga membelah jantung. ese mencengkram tubuh timade, lalu bertanya)
dimana…. dimana…. dimana…..
dimanakah kau bosias? (sejenak merenung)
leka di bukit utara
dia terbakar, dia hangus

timade

(menyanyi lebih keras, dan tiba-tiba bungkam, mengambil alat musik dan memainkannya, bergantian dengan syair sangi yang dilagukannya. ese diam termenung memperhatikan timade dengan wajah terngangah. timade berhenti memainkan alat musik kemudian berbicara)
orang-orang utara…… orang-orang utara terlantar……. orang-orang utara menangis. kau tahu itu? kau tahu itu? (bertanya kepada semua benda yang ada di sekeliling)
siapa pun yang mampu menjalankan kebenaran, ,dialah yang berhak duduk diatasnya, dari manapun asalnya. keempat mata angin yang ada di cakrawala ini adalah pintu menuju bukit itu. (kembali memainkan musik berirama sedih)

ese

bosias?

timade

menggeleng

ese

leka?

timade

dia hanya wajah, dia hanya ibu, dia hanya rahim, dari getahnya aku hidup.

ese

siapa…….?

timade

menuju kursi mengambil kepala, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi seperti hendak membantingnya
wabah………..

kemudian membantingnya


tunas

berteriak histeris sambil mencabik-cabik tubuhnya, bergerak seperti sebuah tarian, berteriak lagi lalu menangis. sejuta sesal, sejuta amarah, sejuta pedih bercampur didadanya.
wabah……
wabah……
kalian membakarku
aku ibu… ibu… ibu…
(terus menangis kemudian bersenandung ave maria. saat itu ese mendekati tiang waktu kemudian memainkannya kembali)

timade

suara dari utara
dari bukit tempat suara terbakar,
suara-suara itu,
suara-suara anak utara
tanyakan kepada mereka.

ese

lahir mati lahir mati lahir mati (diulang berkali-kali)

timade

anakku tinung berkata; kata sudah mati
anakku hede berkata;………………….
anakku yopo berkata; selamat malam kata-kata
anakku yakang berkata; ada dari tiada dan tiada itu kosong belaka
(kembali memainkan musik syadu)

tunas

rahimku terbakar
rahimku menangis
rahimku terkelupas
lava… lava… lava… dari bukit itu
gelisah, berdaya tak.

ese

lahir mati lahir mati lahir mati…….

timade

mereka adalah anak-anakku
anakku dan leka.
(memainkan musik)



ese
bosias?

timade
dia bapaku.

tunas
aku lava… lahir anak-anak badai

ese
siapa anak-anak itu?

timade
api, pedang, angkara, peluru, tombak, mantra, jirah dan kata. merekalah generasi akar yang merayap dan menebas setiap orang. orang yang membuat timbangan di bukit tak seimbang.

ese
aku ingin bertemu bosias

timade
kau telah bertemu dengannya sebelum engkau lahir.

ese
siapa yang mempertemukan kami

timade
leka…. ibumu dari utara

ese
apakah aku anakmu?

timade
menggeleng

ese
apakah aku anakmu?

tunas
bunga dirantingku bertempur dengan hujan dan cuaca

timade
dan generasi itu mati.
aku. saksi.
(kembali menyanyi dengan diiringi tagonggong, ia melagukannya dengan penuh kesedihan)

ese
(sementara eshe mendekati tunas pohon, kursio, tiang gantungan, ia bertanya kepada mereka bergantian)
kaulah kata pertama yang disebut bosias
ibu, ataukah perempuan.

tunas
menangis

timade
beranjak pergi

ese
kau mau kemana? (bertanya kepada timade)

timade
bersaksi.
(membaca sepucuk surat)
bosias… bosias hanya waktu yang berputar, matahari yang menyala. siang, malam, rahim, bintang, laut, daratan, gunung, mata, telinga.
bosias… ya bosias telah mati berkali-kali di lambung. dan dia hanya memilki satu kelahiran.
bacalah warna, bacalah lilin, bacalah gerak, bacalah cuaca, bacalah laut, bacalah langit, bacalah dirimu. bacalah pasir, bacalah batu, bacalah hujan, bacalah badai, bacalah lahir, bacalah mati, bacalah darah, bacalah ombak, bacalah tanah dan bosias akan ditemukan.
(kemudian memainkan lagi irama syadu. tagonggong bertalu-talu)

tunas
menari dalam gerak dan ekspresi sedih,

ese
mengambil cat dan mulai mencat kursi dengan berbagai warna, hingga semua benda disekelilingnya dicat)
terlalu banyak warna adalah celaka
manusia dijajah warna………
warna membunuh warna,
kata membunuh kata
akar terbakar
ranting-ranting terbakar
buah-buah terbakar
(menari dalam dingin tangisan)

tunas
memasang lilin memberikannya kepada ese
air mata dari api anak-anakku.

ese
mengambil lilin dan meneteskannya ke wajahnya
leka terbakar… terlalu banyak warna.
leka terbakar… bunda terbakar
leka terbakar…
bosias.. bosias..  (kemudian merantai kursi lalu keluar panggung)
timade
membawa telur (balon) kemudian membawanya didekat tunas lalu memecahkannya.
dunia panas…. dunia panas… tapi tak cukup menetaskan sebutir saja telur. telur-telur menetas, kelahiran  terlahir dengan wajah penuh kelupas.

Lampu mati di panggung.
Saat sosoki telah berada di panggung lampu menyala
Sementara suara perempuan menangis seperti orang melahirkan

sosok
surat bosias yang terakhir
ada yang memanggil anakku. bosias, bosias akan lahir
bosias akan menetas dalam tubuhmu. (mendekati pohon)
leka akarmu terbakar, akarmu dari utara, anak-anakku, di rantingmu; di bukitmu….. leka….. burung-burung dan perempuan bertelur…. bosias akan lahir, bosias akan menetas, dan orang-orang ini akan memanggil namaku, nama bapaku, namamu leka…
(bersamaan dengan itu terdengar teriakan perempuan dan kelahiran itu lahir)
aku bukan bosias… aku juga bukan mesias, aku bukan kristus. dan dia bukan leka, tetapi kamilah kelahiran. (berkata dengan nada berapi-api)

kelahiran
dan sang kelahiran telah lahir. sebuah janin.
irama sendu ave maria dimainkan timade membawa janin bergerak perlahan

tunas
aku telah lama berdiam dalam luka negeri ini, tetapi apa pilihan untuk tetap merdeka dalam penjajahan ini. orang-orang mencari kebenaran, tapi kebenaran itu telah lama bersembunyi dalam rahimku, dalam akar-akarku, diatas tubuhku ini, telah lahir kemuliaan. tapi keserakahan anak-anakku membakarnya. ya…. mereka membakarnya di golgota. di atas bukit anakku, bendera telah retas tubuh anakku tergetas, tertebas jantungnya, tangan-tangan itu meremasnya.
(menyanyikan ave maria)

timade
negeri ini panas, tapi tak mampu menetaskan sebutir telur, leka kau telah terbakar karena kemuliaan itu.
anak-anakmu, ………anakmu menetas seperti api.
meledakkan kebenaran.



lampu mati, pementasan selesai






 



  

Naskah Drama Dean Joe Kalalo: "Tolak"



Sebuah panggung. Meja, kursi, peralatan kantor, beserta tumpukan kertas. Ungke memasuki panggung dengan memegang sebuah amplop. Ia mondar-mandir di sekitar ruangan. Memandang amplop di tangannya dengan gelagat tak biasa, antara bimbang, gelisah, bingung. Tiba-tiba warna mukanya berubah. Ia menggeram naik pitam. Wajahnya dipenuhi amarah. Ia menggebrak meja lalu menuding-nuding amplop di tangannya.

UNGKE
(geram)
Cukurungan.. jadi dang, tiap hari kita lalah-lalah, korbankan jiwa deng tenaga, cuma for ini kertas-kertas soe ini? Stiap hari kita pe suar tacurah-curah cuma demi mo dapa ini lembaran-lembaran omongkosong ini? (menggeleng-geleng tak percaya lalu menunjuk-nunjuk amplop) bangsat!, ngana memang bangsat, ngana brengsek, ngana iblis! Kita nda rela ngana perbudak. Kita tolak pa ngana!!

Pegawai I dan pegawai II memasuki panggung.

Pegawai II
(panik)
Ungke... kiapa kasiang ngana? Masih pagi so beking kerusuhan.

Pegawai I
(ikut-ikutan panik namun tak bisa berkata-kata, lalu mendesis dengan lagak konyol di sebelah perempuan)
Eh, kage karna blum smokol sto.

Pegawai II
Ato.. jangan-jangan kesurupan sto.

Ungke
Apa ngoni bilang ? kesurupan? Ngoni tu kesurupan!! Kita ini manusia paling sehat. Justru karena kita masih sehat, kita memberontak!!. ngoni itu nintau (menunjuk-nunjuk ke arah pegawai I dan II) ngoni selama ini so diperbudak oleh benda sialan ini. (menuding amplop)

Pegawai I
Ungke.. sabar Ungke, nanti bos mo veto pa ngana.

Ungke semakin naik pitam. Ia melompat di atas meja, membuat kegaduhan.

Ungke
(merobek amplop, dan melemparkan sebagian uang di dalamnya)
he, napa ni doi, makang ngoni ni doi. Ha..ha..ha.. (pegawai I dan II berebutan menangkap uang yang berhamburan di udara) Ngoni dengar bae-bae ne, mulai hari ini kita nyanda perlu mo dapa gaji. Mulai hari ini kita menolak menjadi budak! Ada dengar ngoni monyet-monyet?! (berkeliaran di sekitar ruangan sambil membuat gaduh) mulai hari ini.. (berteriak keras berkali-kali) kita menolak menjadi budak!!!, ngoni masih suka doi?

Pegawai I dan II
(Menjawab serentak namun malu-malu)
Suka!!

Ungke
Oke. Mar ngoni musti bataria kras-kras. Hidup doi, hidup doi, setuju?

Pegawai I dan II
Setuju!!

Ungke
(menghamburkan di udara sisa uang di tangannya)
Napa, kunyah bae-bae ni doi!..Ha..ha...ha...

Pegawai I dan II
(saling berebutan lembaran uang yang berhamburan di udara)
hidup doi, hidup doi!!!

Direktur mendadak memasuki panggung.

Direktur
Ungke... (berteriak panjang) ada apa ini! (berjalan sambil memegang pinggang) Halo.....? adakah seseorang yang bisa menjelaskan kericuhan apa yang sedang terjadi? (Pegawai I dan II tersipu, antara malu dan panik) Ungke, boleh nda mo turun dari atas meja?!

Ungke
Boleh bos, Mar kita nimau!!

Direktur
Kiapa kasiang, tolong jelaskan Ungke!!

Ungke
Depe jawaban panjang deng rumit bos. Nyanda perlu kita jelaskan. Mo jelaskan percuma le, bos nyanda akan mengarti....

Direktur
(membuang amarahnya dan mulai membujuk)
Kiapa nyanda? Torang bole mo bicarakan di ruangan laeng kong...

Ungke
(memotong cepat)
Nyanda bos. Jang coba-coba babuju. Hari ini kita menolak gaji, menolak iko bos pe mau, bos pe prenta. Pokoknya menolak apa saja yang seharusnya terjadi. Kita nyanda suka keadaan ini. Kita binci!

Direktur
(mendekat sambil memasang wajah bijaksana)
Ungke,.. ngana suka mo cuti?, ngana boleh ambe cuti besar. Cuti jo barang satu bulan. Ngana so bakarja di sini dua belas tahun.

Ungke
(kembali naik pitam dan menghempaskan ke lantai tumpukan kertas di atas meja)
Apa?.. cuti? Bos bilang tadi cuti? Cuti setelah dua belas tahun bekerja? Ha..ha..ha.. cuti besar kong maso kantor ulang, kong bakarja ulang dua belas tahun lagi? Ha..haa..ha.. ambe jo ngana pe cuti bos!! (meloncat dari atas meja dan mengamuk) bangsat ngoni samua!, bangsat! So dua belas tahun kita bangong tiap pagi kong brangkat deng tergesa-gesa ke kantor ini. So dua belas tahun kita melakukan pekerjaan yang itu-itu delapan jam sehari! So dua belas tahun, dan akan berpuluh-puluh tahun lagi! Memang kita dapa bayar mahal untuk itu. Mar ini semua Cuma omongkosong!, ini bukang ngoni pe salah, ini semua Cuma omongkosong! Ngoni mangarti nyanda monyet-monyet!?. Cuma omongkosong!!

Pegawai I dan II
(mendesis)
Ungke so butul-butul jadi gila!!

Ungke
Sekarang kita so putuskan. Kita musti kaluar dari samua omongkosong ini. Kita musti secepatnya menyelamatkan diri dari kekonyolan ini! (perlahan mulai meninggalkan panggung). Selamat tinggal semua, selamat tinggal dunia omongkosong!

Pegawai I, II, dan Direktur
(berusaha membujuk)
Ungke,..

Direktur
Capat dusu pa dia. Ado kasiang torang nimbole kehilangan dia. Dia pegawai terbaik di kantor ini!! (menyusul pegawai I dan II mengejar Ungke)

Panggung masih berantakan. Kertas-kertas berhamburan tak beratur. Direktur memasuki panggung.

Direktur
Nda abis pikir kita. Butul-butul nya abis pikir. Manusia jaman skarang so mulai jadi lebe gila. So dapa karja bae-bae deng gaji basar mar masih blum puas. Huh,.. susah jo. Mar so bagitu no, mo beking apa le..


Pegawai I dan II
(memasuki panggung lalu mengucap serentak)
Selamat pagi Bos!!

Direktur
Eh, pagi. Bagimana kemarin dapa dusu jo pa Ungke?

Pegawai II
Adoh, so nyanda bos..

Pegawai I
Iyo. Torang so berusaha. Mar nintau da lari kamana sto dia.

Direktur
(menggeleng-gelengkan kepala dan menghembuskan bafas panjang)
Ungke..Ungke.. kiapa ngana jadi bagini kasiang. Eh, skarang ngoni manimpang dulu ini ruangan. So kurang sama deng kapal pica de pe model. Aktifitas kantor so musti bajalang normal ulang. Lupakan jo tu kejadian kemarin.

Pegawai I dan II memungut tumpukan kertas yang berserakan di lantai. Direktur mondar-mandir, masih tak habis pikir dengan peristiwa yang telah terjadi. Ungke tiba-tiba memasuki panggung dengan wajah ceria.

Ungke
(berteriak keras)
Pagi! he-he.. apa kabar samua di hari yang cerah ini. Oh, lagi sibuk beres-beres ini. (menghampiri direktur lalu menjabat tangannya) pagi bos,. Bos dapa lia gaga komang pagi ini no.

Direktur, pegawai I dan II terpaku sambil menatap Ungke dengan heran.

Direktur
(menepuk-nepuk pipi Ungke)
Ungke.. masih ngana ini!?, Wei, Ungke masih ngana jo ini?!!

Ungke
Tuangala, masa komang bos so lupa, ini kita Ungke, laki-laki gaga yang so dua belas tahun jadi bos pe pegawai kesayangan. He..he..he..

Direktur
Ungke,.. bilang kalamaring ngana so mo brenti karja?

Ungke
Kemarin? tunggu ee, kemarin kang? (menggaruk-garuk kepala) Oh.. kemarin itu.. hah.. sudahlah.. kemarin is kemarin, skarang kita mo bakarja ulang dengan semangat. Lupakan jo tu peristiwa yang so lalu. Skarang torang sama-sama tatap masa depan!

Direktur
Ungke, kiapa ngana so jadi manusia plin-plan bagini dang?

Ungke
Ha?.. plin-plan? Ha...ha..ha... namanya juga orang Indonesia. Bos rupa pura-pura nintau jo. Torang musti pertahankan identitas manusia Indonesia, plin-plan dan tak berpendirian, Iyo to Bos?!.

Pegawai I,II dan Direktur saling bersitatap bodoh. Ruangan hening seketika.

Direktur
(menghentikan keheningan)
Oke!. Nda usah talalu banya bapikir-pikir. Sekarang torang musti bersyukur karena Ungke, pegawai terbaik kantor ini so kembali ke pangkuan pertiwi.. ha... ha..ha.. (pegawai I dan II ikut-ikutan tertawa) skarang,.. torang musti rayakan kembalinya Ungke seperti yang dulu. Khusus hari ini kantor kita kase libur, torang beking pesta makang-makang, samua kita yang traktir. Setuju?...

Ungke, Pegawai I dan II
(berujar serentak)
Setuju......

Direktur
Hidup Ungke!!

Ungke, Pegawai I dan II
(berujar serentak)
Hidup!!!!!

Semuanya meninggalkan panggung dengan semangat.